MAKALAH TENTANG PERKEMBANGAN POLITIK DAN PERADABAN SEBELUM KEMERDEKAAN DI INDONESIA
PERKEMBANGAN POLITIK DAN PERADABAN SEBELUM KEMERDEKAAN DI INDONESIA
DISUSUN OLEH :
ANGGUN CITA DEWI
JESI LESTARI M
NURFADILAH
PIO MALTIR
TAHUN AKADEMIK
2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa, karena telah melimpahkan
rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa
terselesaikan. Terima kasih juga buat bapak dosen, yang selalu setia
mendampingi, dan juga terima kasih untuk kerja sama teman- teman selama
pembuatan makalah ini.
Kami
berharap makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas
dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun
demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.
Penulis
Tobadak, 24 oktober 2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.LATAR BELAKANG
Indonesia adalah Negara yang memiliki historis masa ke emasan sebelum terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebelum terbentuknya Negara-negara seperti saat ini, Bangsa Indonesia masuk dalambagian wilayah Nusantara. Lihat saja kerajaan Majapahit yang merupakan salah satu kerajaan yang mampu menguasai Nusantara adalah sebuah catatan sejarah yang membanggakan bagi Indonesia. Berkat patih Gajah Mada dengan Sumpah palapa-nya Nusantara mampu ditalukkan oleh majapahit ketika masa kepemimpinan Hayam Huruk. Suatu Bangsa yang besar tentu telah sanggup membangun kemajuan ekonomi dan politik masyarakatnya. Karena kemajuan ekonomi dan politi suatu Bangsa adalah prestasi dari kejayaan suatu bangsa. Ekonomi dan politik yang maju adalah keadaan yang mampu mensejahterakan masyarakatnya
2.RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana perkembangan politik yang terjadi sebelum
kemerdekaan di Indonesia ?
2.
Bagaimana perkembangan peradaban yang terjadi sebelum
kemerdekaan di Indonesia
3.TUJUAN
1.
Mengetahui bagaimana perkembangan politik di Indonesia
sebelum kemerdekaan
2. Mengetahui bagaimana perkembangan peradaban sebelum kemerdekaan di indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
Perkembangan politik sebelum kemerdekaan di indonesia
Menurut
Harold J. Laski, negara demokrasi biasanya dibangun melalui sistem
kepartaian.[1] Partai politik adalah alat yang paling ampuh bagi manusia untuk
mencapai tujuan-tujuan politiknya. Pembuatan keputusan negara hanya mungkin
dilakukan secara teratur melalui pengorganisasian secara melembaga berdasarkan
tujuan-tujuan kenegaraan, yaitu oleh partai politik. Partai politik berfungsi
sebagai struktur antara rakyat (civil society) dengan
negara (state). Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa
demokrasi tidak dapat berjalan tanpa adanya partai politik.[2] Carl J. Fredrich
mendefinisikan partai politik sebagai sebuah kelompok manusia yang terorganisir
secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap
pemerintahan bagi pimpinan partainya, dan berdasarkan penguasaan ini memberikan
kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil serta materiil.[3]
Partai politik menjalankan peran penghubung yang strategis antara proses kenegaraan dengan warga negara. Bahkan Schattscheider mengatakan bahwa political parties created democracy (partai politik yang membentuk demokrasi), dan bukan sebaliknya.[4] Kepartaian yang terjadi di Indonesia, sudah mulai tumbuh dan berkembang sejak masa kolonial Belanda, untuk hal yang menarik untuk disimak dalam buku ini, dimulai dari kepartaian ini dari sejak masa penjajahan Belanda. Kita akan mundur ke belakang (flash back) guna mengetahui perkembangan partai-partai politik pada masa penjajahan hingga awal kemerdekaan Indonesia. Partai-partai politik pada masa penjajahan merupakan embrio bagi tumbuh kembang kehidupan berpolitik sebagaimana kemudian juga terjadi setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Masa penjajahan Belanda
Masa ini disebut sebagai periode pertama
lahirnya partai politik di Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). Partai Politik
yang paling pertama dibentuk di Indonesia adalah De Indische Partij pada
25 Desember 1912 oleh Douwes Dekker, Ki Hadjar Dewantara, dan Tjipto
Mangunkoesoemo.[3] Lahirnya partai
menandai adanya kesadaran nasional. Pada masa itu semua organisasi baik yang
bertujuan sosial seperti Budi Utomo dan Muhammadiyah, ataupun yang berasaskan
politik agama dan sekuler seperti Serikat Islam, PNI dan Partai Katolik, ikut
memainkan peranan dalam pergerakan nasional untuk Indonesia merdeka.
Kehadiran partai politik pada masa permulaan
merupakan menifestasi kesadaran nasional untuk mencapai kemerdekaan bagi bangsa
Indonesia. Setelah didirikan Dewan Rakyat, gerakan ini oleh beberapa partai
diteruskan di dalam badan ini. Pada tahun 1939 terdapat beberapa fraksi di
dalam Dewan Rakat, yaitu Fraksi Nasional di bawah pimpinan M. Husni Thamin,
PPBB (Perhimpunan Pegawai Bestuur Bumi Putera) di bawah pimpinan Prawoto dan
Indonesische Nationale Groep di bawah pimpinan Muhammad Yamin.
Di luar dewan rakyat ada usaha untuk
mengadakan gabungan partai politik dan menjadikannya semacam dewan perwakilan
rakyat. Pada tahun 1939 dibentuk KRI (Komite Rakyat Indonesia) yang terdiri
dari GAPI (Gabungan Politik Indonesia) yang merupakan gabungan dari
partai-partai yang beraliran nasional, MIAI (Majelis Islamil Aâ€laa Indonesia) yang
merupakan gabungan partai-partai yang beraliran Islam yang terbentuk tahun
1937, dan MRI (Majelis Rakyat Indonesia) yang merupakan gabungan organisasi
buruh.
Pada tahun 1939 di Hindia
Belanda telah
terdapat beberapa fraksi dalam volksraad yaitu Fraksi
Nasional, Perhimpunan Pegawai Bestuur Bumi-Putera, dan Indonesische
Nationale Groep. Sedangkan di luar volksraad ada usaha
untuk mengadakan gabungan dari Partai-Partai Politik dan menjadikannya semacam
dewan perwakilan nasional yang disebut Komite Rakyat Indonesia (K.R.I). Di
dalam K.R.I terdapat Gabungan Politik Indonesia (GAPI), Majelisul Islami A'laa
Indonesia (MIAI) dan Majelis Rakyat Indonesia (MRI). Fraksi-fraksi tersebut di
atas adalah merupakan partai politik - partai politik yang pertama kali
terbentuk di Indonesia.
Masa pendudukan Jepang
Pada
masa pendudukan Jepang semua Partai Politik dibubarkan. Namun, pendudukan
Jepang juga membawa perubahan penting. Meski eksistensi partai politik sebagai
suatu organisasi tidak diakui, namun tokoh-tokoh politik masih berperan penting
dalam proses mencapai kemerdekaan. Pada masa Jepang-lah didirikan
organisai-organisasi massa yang jauh menyentuh akar-akar di masyarakat. Berbeda
dengan peran partai politik pada masa penjajahan Belanda sebelumnya sebagian
besar masih sebatas sebagai sebagai penengah, dan perumus ide yang hanya
berfungsi sebagai sarana sosialisasi politik dan komunikasi politik.[10]
Partai-partai politik yang ada sebelum kemerdekaan pada umumnya bersifat
ideologis serta memiliki fungsi dan program utama untuk mewujudkan kemerdekaan
Indonesia.
Jepang mempelopori berdirinya organisasi massa bernama Pusat Tenaga Rakyat (Poetera). Namun nasib organisasi ini pada akhirnya juga ikut dibubarkan oleh Jepang karena dianggap telah melakukan kegiatan yang bertujuan untuk mempengaruhi proses politik. Praktis sampai diproklamirkan kemerdekaan, masyarakat Indonesia tidak mengenal partai-partai politik. Demikian juga saat terbentuknya BPUPK dan PPKI oleh pemerintahan Jepang, di mana keanggotaannya di isi oleh tokoh-tokoh nasional yang sebelumnya merupakan pimpinan partai politik. Sehingga dengan demikian peran para tokoh yang sebelumnya berada dalam partai-partai politik masa Belanda semakin mampu menemukan wadahnya untuk berkontribusi pada rakyat meski “wadah” kepartaian sendiri tidak terwujud : dengan kata lain mereka mengambil peran dalam program-program yang dibentuk oleh Jepang.
PERKEMBANGAN PERADABAN SEBELUM KEMERDEKAAN DI INDONESIA
Secara geologi, wilayah Indonesia modern (untuk kemudahan, selanjutnya
disebut Nusantara) merupakan pertemuan antara tiga lempeng
benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (lihat
artikel Geologi Indonesia). Kepulauan Indonesia
seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es, sekitar 10.000 tahun yang lalu.
Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti
pertama yang menunjukkan penghuni awal adalah fosil-fosil Homo erectus manusia Jawa dari masa 2 juta
hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa "manusia Flores" (Homo floresiensis)[1] di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H.
erectus hingga masa Zaman Es terakhir.[2]
Homo sapiens pertama
diperkirakan masuk ke Nusantara sejak 100.000 tahun yang lalu melewati jalur
pantai Asia dari Asia Barat,
dan pada sekitar 60 000 sampai 70 000 tahun yang lalu telah mencapai Pulau
Papua dan Australia.[3] Mereka, yang berfenotipe kulit gelap dan rambut ikal rapat,
menjadi nenek moyang penduduk asli Melanesia (termasuk Papua) sekarang dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). Gelombang pendatang
berbahasa Austronesia dengan
kultur Neolitikum datang secara bergelombang sejak 3000 SM
dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini
merupakan bagian dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak
penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan
menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa serta
teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat sejak abad ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktik-praktik megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). Pada abad pertama SM sudah terbentuk
permukiman-permukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah
masuk pengaruh kepercayaan dari India akibat hubungan perniagaan.
Sejarah awal
Para cendekiawan India telah menulis tentang Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di Pulau Jawa dan Sumatra atau Swarna Dwipa sekitar 200 SM. Bukti fisik awal yang menyebutkan mengenai
adanya dua kerajaan bercorak Hinduisme pada abad ke-5, yaitu Kerajaan Tarumanagara yang menguasai Jawa Barat dan Kerajaan Kutai di pesisir Sungai Mahakam, Kalimantan. Pada tahun 425 ajaran Buddhisme telah mencapai wilayah tersebut.
Nusantara telah mempunyai warisan peradaban
berusia ratusan tahun dengan dua imperium besar, yaitu Sriwijaya di Sumatra pada abad ke-7 hingga ke-14 dan Majapahit di Jawa pada abad ke-13 sampai ke-16, ditambah dengan puluhan kerajaan kecil yang
acap kali menjadi vasal tetangganya yang lebih kuat atau saling terhubung dalam
semacam ikatan perkawinan dan perdagangan (seperti di Maluku). Hal tersebut telah terjadi sebelum Eropa Barat mengalami masa Renaisans pada abad ke-16.
Kerajaan Hindu-Buddha
Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Buddha, yaitu Kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Portugis hingga akhirnya tewas terbunuh di dalam Benteng Duurstede. Selanjutnya dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1574. Portugis diusir yang kemudian bermukim di Pulau Timor.
Kolonisasi VOC
Mulai tahun 1602 Kongsi dagang VOC yang didirikan di Republik Persekutuan Tujuh Provinsi bersaing dengan
kerajaan Portugal dan Kerajaan Spanyol dalam dominasi perdagangan rempah di
Hindia Timur (Nusantara), secara perlahan-lahan menjadi penguasa
wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan Perselisihan dan
perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit.
VOC berhasil mengeliminasi Kongsi dagang EIC yang didirikan oleh kerajaan Inggris yang bertahan di bengkulu hingga 1824,
satu-satunya koloni Portugal yang masih bertahan hingga abad 20 adalah Timor Portugis, yang tetap
dikuasai Portugal hingga 1975 ketika berintegrasi menjadi provinsi Indonesia bernama Timor Timur.
Pada abad ke-17 dan 18 Hindia Belanda tidak
dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang
bernama Perusahaan Hindia
Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau
VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas
kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.
Kongsi Dagang VOC dan dilanjutkan oleh
pemerintah kolonial Belanda mendominasi Indonesia selama hampir 350 tahun
(antara 1602 dan 1945), kecuali untuk suatu masa pendek di mana sebagian kecil
dari Indonesia dikuasai Britania setelah Perang
Jawa Britania-Belanda (perpanjangan dari perang Napoleonik di Eropa) dan
masa penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia II. Pada masa
penguaasaan VOC terhadap nusantara banyak penduduk di nusantara menderita
akibat monopoli, peperangan dan pajak dari VOC, salah satu perusahaan terbuka yang terbesar dalam sejarah,
Setelah VOC bangkrut pada 1799 dan aset-asetnya di nusantara diambil alih oleh
kerajaan Belanda dalam bentuk pemerintahan kolonial,
Belanda mulai mengembangkan Hindia Belanda menjadi salah satu kekuasaan kolonial
terkaya di dunia. 350 tahun penjajahan Belanda bagi sebagian orang adalah
berlebihan karena banyak wilayah di Indonesia seperti Aceh dan Papua baru
ditaklukkan secara penuh oleh Belanda mendekati abad ke 20.
Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan
rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan
ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap
orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut.
Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus
menjual biji pala kepada pedagang
Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan
kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau
budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.
VOC menjadi terlibat dalam politik internal
Jawa pada masa ini, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten.
Kolonisasi pemerintah Belanda
Era Napoleon (1800-1811)
Dalam masa ini Hindia Belanda berturut-turut
diperintah oleh Gubernur Jenderal Overstraten, Wiese, Daendels, dan yang terakhir adalah Janssens. Pada masa Daendels dibangunlah Jalan Raya Pos (jalur Pantura sekarang), kemudian meluaskan daerah
jajahan hingga ke Lampung, namun kehilangan Ambon, Ternate dan Tidore
yang direbut Britania. Tahun 1810 ketika Prancis menganeksasi Belanda, maka
bendera Prancis dikibarkan di Batavia, dan Daendels kembali ke Eropa untuk
berperang di bawah Napoleon. Janssens, penggantinya, tidak memerintah lama,
karena Britania di bawah Lord Minto datang dan merebut
Jawa dari
Belanda-Prancis.
Interregnum Britania
(1811-1816)
Setelah Britania menguasai Jawa, pemerintahan
beralih sementara dari Belanda ke Britania, hingga akhir perang Napoleon pada
1816 ketika Britania harus mengembalikan Hindia Belanda kepada Kerajaan
Belanda. Lord Minto menjadi Gubernur Jenderal pertama yang bermarkas di India,
sedangkan Raffles diangkat menjadi Letnan Gubernur yang memimpin Jawa. Raffles
kemudian membenahi pemerintahan di Jawa sesuai sistem pemerintahan Britania.
Salah satu penemuan penting pada pemerintahan
Raffles adalah penemuan kembali Candi Borobudur, salah satu candi
Buddha terbesar di dunia, dan Gunung Tambora di Sumbawa meletus, dengan korban langsung dan
tidak langsung mencapai puluhan ribu jiwa
Pemerintahan Kerajaan
Belanda (sejak 1816)
Setelah Kongres Wina mengakhiri Perang Napoleon dan
mengembalikan Jawa ke Belanda, sejak 16 Agustus 1816 pemerintah Kerajaan Belanda berkuasa dan
berdaulat penuh atas wilayah Hindia Belanda yang tertulis dalam Undang-Undang
Kerajaan Belanda tahun 1814 dan diamendemen tahun 1848, 1872, dan 1922 menurut perkembangan wilayah Hindia Belanda, hingga 1942 ketika Jepang datang menyerbu
dalam Perang Dunia II.
Dalam masa ini, terjadi pemberontakan besar di
Jawa dan Sumatra, yang terkenal dengan Perang Diponegoro atau Perang Jawa, pada tahun 1825-1830, dan Perang Padri (1821-1837), dan perang-perang lainnya.
Setelah tahun 1830 sistem tanam paksa yang dikenal sebagai cultuurstelsel dalam bahasa Belanda mulai
diterapkan. Dalam sistem ini, para penduduk dipaksa menanam hasil-hasil
perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia pada saat itu, seperti teh, kopi dll. Hasil tanaman itu kemudian diekspor ke mancanegara.
Sistem ini membawa kekayaan yang besar kepada para pelaksananya - baik yang
Belanda maupun yang Indonesia. Sistem tanam paksa ini adalah monopoli
pemerintah dan dihapuskan pada masa yang lebih bebas setelah 1870.
Pada 1901 pihak Belanda mengadopsi apa yang mereka sebut Politik Etis (bahasa
Belanda: Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih
besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi, dan sedikit perubahan politik. Di bawah
gubernur-jenderal J.B. van Heutsz pemerintah Hindia Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial
secara langsung di sepanjang Hindia Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi
bagi negara Indonesia saat ini.
Gerakan nasionalisme
Perang Dunia II
Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki
oleh Nazi Jerman. Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga dan
di Juli mengalihkan ekspor untuk Jepang ke Amerika Serikat dan Britania. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk
mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal di Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia Tenggara
di bulan Desember tahun itu. Di bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima
bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan
Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942.
Pendudukan Jepang
Pada Juli 1942, Soekarno menerima tawaran Jepang untuk mengadakan
kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang juga dapat memberikan jawaban
terhadap kebutuhan militer Jepang. Soekarno, Mohammad Hatta, dan para Kyai memperoleh penghormatan dari
Kaisar Jepang pada tahun 1943. Tetapi, pengalaman dari penguasaan Jepang di
Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status
sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam
peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan sembarang dan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang
Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran dalam
penguasaan Jepang.
Pada Maret 1945 Jepang membentuk Badan
Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada pertemuan
pertamanya di bulan Mei, Soepomo membicarakan integrasi nasional dan
melawan individualisme perorangan; sementara itu Muhammad Yamin mengusulkan bahwa negara baru tersebut
juga sekaligus mengklaim Sarawak, Sabah, Malaya, Portugis Timur, dan seluruh wilayah Hindia
Belanda sebelum perang.
Pada 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan Radjiman Widjodiningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang menuju kehancuran tetapi Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Indonesia
adalah Negara yang memiliki historis masa ke emasan sebelum
terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebelum terbentuknya
Negara-negara seperti saat ini, Bangsa Indonesia masuk dalambagian wilayah
Nusantara. Lihat saja kerajaan Majapahit yang merupakan salah satu kerajaan
yang mampu menguasai Nusantara adalah sebuah catatan sejarah yang membanggakan
bagi Indonesia. Berkat patih Gajah Mada dengan Sumpah palapa-nya Nusantara mampu
ditalukkan oleh majapahit ketika masa kepemimpinan Hayam Huruk. Suatu Bangsa
yang besar tentu telah sanggup membangun kemajuan ekonomi dan politik masyarakatnya.
Karena kemajuan ekonomi dan politi suatu Bangsa adalah prestasi dari kejayaan
suatu bangsa. Ekonomi dan politik yang maju adalah keadaan yang mampu
mensejahterakan masyarakatnya.

No comments for "MAKALAH TENTANG PERKEMBANGAN POLITIK DAN PERADABAN SEBELUM KEMERDEKAAN DI INDONESIA"
Post a Comment
Silahkan berkomentar dengan bijak dan sesuai dengan pembahasan..